Belajar dengan Menulis

Menulis merupakan salah satu cara belajar yang paling baik. Bentuk ujian pun lebih banyak dalam bentuk tulisan dibanding dalam bentuk lisan. Untuk ujian bahasa, baru kemudian bentuk ujian lisan lebih lazim.

Menulis paper. Paper yang saya maksud di sini tak harus paper akademik yang akan diterbitkan dalam jurnal bergengsi. Tak harus itu. Yang penting tulisan. Entah penjelasan proyek pribadi yang sedang dikerjakan ataupun penelitian.

Percayalah dengan menulis, kita akan belajar lebih banyak. Pertama mencari ide, berabstraksi. Kedua mendokumentasikan. Ketiga membuat pola pikir lebih sistematis. Dan keempat belajar dari orang lain saat melihat paper milik orang lain.

Dari pengamatan saya, konferensi umumnya memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada paper bagi kalangan akademisi. Dan konferensi lebih banyak datang dari kalangan praktisi.

Dalam dunia saya, keamanan informasi, di Indonesia setiap tahun sudah rutin diadakan IDSECCONF (Indonesia Security Conference). Acara ini didukung Kominfo. Salut untuk konsistensinya. Beberapa kali pun saya coba untuk mencoba menulis dan submit dalam acara ini. Terakhir kali saat coba submit, paper saya dinyatakan tidak layak masuk.

Tak mengapa, saya pun tetap belajar. Dengan mencoba menulis, saya pun sudah merasa belajar banyak. Ya tapi memang masih ada orang yang lebih baik dari saya.

Saat membaca artikel pycon ini, jadi lebih menarik. Di artikel ini dijelaskan bagaimana komite program konferensi Python melakukan penilaian dari proposal yang masuk. Dengan melihat bagaimana mereka melakukan penilaian, wah terasa sekali memang masih harus belajar banyak.

Planet-planet Di Mana-mana

Sekarang terus bermunculan planet-planet di mana-mana. Planet yang saya maksud di sini adalah planet agregasi blog, bukan planet anggota tata surya.

Di satu sisi ini bagus, komunitas semakin tumbuh dewasa, semakin spesifik, dan semakin terarah. Di sisi lain, saya suka malas juga membaca blog yang muncul di berbagai planet. Errr, namun ini muncul juga kok di planet luar negeri yang saya baca. Ya, tapi baiknya, sesuai meningkatnya kedewasaan, para penulis planet bisa menempatkan diri dan tulisannya dengan baik. Ah, tapi apa kedewasaan berarti tumbuh menjadi orang membosankan karena tak lagi bermain?

Biar bagaimanapun wajah planet yang ada, tetap bagi saya yang lebih penting adalah konsistensi menulis yang sesuai dengan tema planet yang dihuni sendiri. Nah, hal ini yang justru lebih sulit daripada memilah-milah tulisan masuk ke planet mana.

Saya sendiri menjadi maintainer planpin aka Planet Python Indonesia, yang sekarang sedang ada masalah dengan proses update fetch sumber tulisan 🙁 Yang lebih cepat tampil rapi justru Planet Debian Indonesia. Salut untuk Udienz!

Planet-planet dalam tata surya Indonesia lain yang saya ketahui: Serambi Blankon Linux, Planet Ubuntu Indonesia.