Rilis Video DebConf14

Komunitas Debian baru saja usai dengan debconf14. Tim video sudah merilis video konferensi ini. Wow, bananastastic!.

Saya jadi teringat, bagaimana saya berusaha membuat rekaman video kopdar Python Indonesia dengan segala keterbatasan sumber daya yang ada. Salut lah untuk tim video debconf14.

Di Indonesia sebenarnya saya lihat banyak pengguna Debian. Teman-teman di UI/ITB, misalnya. Namun belakangan dengan munculnya Ubuntu, saya kira generasi muda di Indonesia rasanya jadi lebih banyak yang menggunakan Ubuntu. Err tapi setahu saya sekarang teman-teman Blankon menggunakan Debian sebagai sistem base.

Selamat menonton! Bagi yang sudah menonton, tulisan resensi video akan berguna.

Apa Kabar Perpustakaan Pusat ITB?

Apa kabar Perpustakaan Pusat ITB?

Kurang lebih 10 tahun lalu, di depan Gedung PAU ITB, terdapat gedung yang diberi julukan gedung kamar mandi. Julukan ini datang dari material keramik yang menyelimuti gedung ini mirip dengan keramik yang digunakan di kamar mandi.

Saat saya terakhir melihat Gedung Perpustakaan Pusat ITB, gedung ini direnovasi dengan diberi “selimut baru” layaknya gedung-gedung anyar. Lalu, di media sosial, saya lihat Perpustakaan Pusat ITB mulai berbenah dengan penambahan fasilitas baru. Yang saya ingat adalah American Corner. Lalu komputer Macintosh Apple.

Adalah Perpustakaan Pusat ITB yang “mengajarkan” saya akan Dewey Decimal Classification. Lalu etika bagaimana meletakkan buku saat kita mengambilnya dari rak. Awalnya saya kira merupakan hal tidak sopan saat kita mengambil buku dari rak lalu menggeletakkan begitu saja di meja. Ternyata tindakan ini merupakan tindakan yang benar. Akan lebih sulit bagi pustakawan untuk menemukan buku yang salah taruh di lemari daripada mengembalikan buku ke rak yang benar dari meja.

Usai meninggalkan Bandung, di Jakarta saya menemukan Perpustakaan Diknas. Yang saya tahu perpustakaan diknas ini merupakan hibah koleksi perpustakaan British Council. Perpustakaan Diknas hadir di tengah kota Jakarta dengan interior yang menawan. Satu oase segar bagi kehidupan yang pelik di Ibukota.

Perpustakaan Diknas “mengajarkan” saya bagaimana menjadi anggota perpustakaan. Satu sistem yang sama, dengan perpustakaan publik Monash. Bagi mereka yang ingin menjadi anggota, perlu menuliskan alamat surat yang jelas, untuk nanti dikirimkan surat dari perpustakaan.

Saya tahu, budaya lisan memang lebih dominan di Indonesia. Namun tak ada salahnya kita mulai mengurangi budaya mengobrol, dan mencoba lebih aktif dengan membaca/menulis. Karena perbedaan zaman prasejarah dengan sejarah ditandai dengan tulisan. Bukan dengan budaya lisan.

PS: Foto di atas merupakan pemandangan dari salah satu perpustakaan publik Monash, persisnya di Wheelers Hill. Siapa yang tidak akan betah membaca dengan pemandangan seperti itu?