Tag Archives: blankon

Blankon Bukan Hanya BlankonLinux

Kemarin, saya turut berpartisipasi dalam sesi komunitas di acara ICrOSS (Indonesia Creative Open Source Software). Bagi saya, sesi ini cukup seru dan menyenangkan karena saya bertemu beberapa teman lama dan banyak orang-orang baru.

ICrOSS

Yang menjadi panelis pada sesi komunitas ini ternyata lebih banyak dari yang tertulis pada halaman ICrOSS. Tapi ada juga yang tidak hadir. Seingat saya yang tak bisa hadir adalah Santoso Serat (BP3TI). Yang menjadi moderator pun bukan Teddy Sukardi, melainkan Didik Partono Rudiarto.

Sebelum saya mulai cerita detail bagaimana sesi komunitas ini, saya ingin kutip perkataan MDAMT, Direktur Eksekutif Blankon,

“Blankon bukan hanya BlankonLinux. BlankonLinux hanyalah salah satu produk dari proyek Blankon dalam mengembangkan ekosistem F/OSS di Indonesia”

Dalam juga kan filosofinya.

Pengembangan F/OSS tidak bisa hanya dengan mengembangkan suatu distro, tapi banyak cara yang perlu ditempuh. Yang semuanya dibutuhkan untuk membentuk ekosistem.

Panelists

Lalu, sekarang saya coba ceritakan detail yang menarik dalam sesi komunitas ini. Ini bukan tulisan reportase, jadi tulisan ini akan sangat subjektif.

Bagi saya, yang membuat sesi ini hidup tak bisa lepas dari peranan moderator, Didik Partono Rudiarto. Didik sangat lihai membawa flow sesi ini. Jika Didik tak memahami topik F/OSS, takkan mungkin ia bisa sebagus ini memoderatori acara.

Lihat saja keragaman panelis yang ada. Selain yang sudah tertulis di laman ICrOSS, belakangan hadir dari FreeBSD Indonesia, CentOS, Hamdhani dari Backtrack Indonesia, Heriyadi Janwar dari Microsoft Indonesia, dan Hiskia dari Blender Indonesia.

Oh ya jika di laman ICrOSS tertulis Gary Dean bertindak sebagai moderator, pada praktiknya, Gary Dean ikut sebagai salah satu panelis, mewakili Forum Ubuntu Indonesia.

Hiskia, dari Blender Indonesia, menyampaikan paparannya dengan sedikit provokatif. Ia cerita kapan ia mendirikan komunitas Blender Indonesia ini, lalu tepat setelah 5 tahun berdiri, ia akan membubarkan komunitas ini. Ia tidak ingin Blender Indonesia menjadi agama baru.

Hiskia juga cenderung tidak suka dengan sikap fanatis, atau yang ia sebut fan boy. Bahkan pada dunia Linux pun juga ada fan boy.

Pendapat Hiskia yang menarik adalah, seringkali kita tidak membawa otak atau ide. Yang kita bawa setiap hari hanyalah hardware dan software yang canggih. Tapi kita lupa satu hal yang paling penting itu, yaitu ide.

Kota Jogja memang mampu menghadirkan atmosfer yang kreatif bagi para penduduknya. Oh ya, Hiskia ini asalnya dari Jogja.

Lalu ada Noor Azzam dari KLAS (Klub Linux Arek Suroboyo). KLAS saya lihat bisa cukup konsisten dalam mengadakan acara kumpul-kumpul. Dengan memanfaatkan kearifan lokal, KLAS menamakan acara kumpulnya sebagai Cangkru’an. Saat server repositori KLAS membutuhkan sumber daya tambahan, Noor Azzam membuka jalur donasi. Sungguh praktik gotong-royong.

Jauh-jauh datang dari Banjar – Jawa Barat, Andi Sugandi dari Open SuSE Indonesia, cerita pengalamannya di dunia pendidikan TIK, khususnya di SMK TKJ Banjar. Andi berangkat Selasa dini hari hanya untuk datang ke acara ini. Sungguh militansi yang luar biasa. Andi merupakan teman lama saya di Bandung. Momen yang paling saya ingat adalah di tahun 2007, saat pesta rilis Ubuntu 7.04 Feisty Fawn di Common Room, Kyai Gede Utama.

Banyak hal menarik lain saat sesi tanya jawab, tapi untuk tulisan kali ini saya berhenti sampai sini dulu.

Eits, masih teringat satu-dua hal lagi.

Mic Stand

Saat Hamdhani cerita komunitas Backtrack Indonesia, Didik dengan pintar bertanya, “Bagaimana caranya agar yang muda-muda, yang aktif di Backtrack ini, tidak sembarangan men-deface web orang lain?”. Didik seolah paham betul bahwa yang suka men-deface ini cenderung anak-anak muda yang butuh pengakuan.

Saya sendiri cerita soal OWASP, dan Didik heran, melihat bidang yang menarik namun belum banyak yang menekuni.

Sebelum sesi berakhir, ada seorang penonton, yang mengaku sebagai pengembang, dan bercerita bagaimana pilihan jalan hidup sebagai pengembang merupakan jalan hidup yang sepi dan tak bergelimang dengan uang.

Beberapa pengurus AOSI berusaha membesarkan hati. Salah satunya Widjaja (?) pendiri Gudang Linux bahwa orang akan melihat portofolio Anda di github dan lantas merekrut Anda.

Namun, MDAMT tidak setuju. Ia mengamini pendapat penonton ini. Menurut MDAMT, ekosistem di Indonesia, belum mendukung untuk itu. MDAMT cerita bagaimana perusahaannya bangkrut di tahun 2004, lalu ia hengkang ke luar negeri selama 7.5 tahun, lalu akhirnya kembali lagi ke Indonesia.

Musik, Satu Cerita dari Konferensi BlankOn Keempat

Satu hal yang saya sukai dari bertemu orang-orang baru adalah mendapatkan perspektif baru, cerita baru, karakter baru, dan tentu saja semakin tersadar bahwa hidup itu begitu penuh warna.

Sabtu kemarin, saya sempatkan untuk datang sejenak di acara Konferensi BlankOn Keempat yang diadakan di CICO Resort, Cimahpar, Bogor. Saya berangkat dari lokasi yang jaraknya sebenarnya tak terlalu jauh, tapi ternyata membutuhkan waktu tempuh yang lama. Hiks.

Berikut saya sematkan 2 video yang sempat saya rekam saat hadir di sesi “Musik dengan BlankOn” oleh Kukuh Syafaat, Gitaris Marsmellow Band.

Video saya rekam dengan kamera ponsel, jadi maafkan untuk kualitas yang seadanya.

Bermusik di zaman komputer ini menjadi seni tersendiri. Kita bisa membuat musik digital dengan alat bantu komputer. Kita merekam dengan memanfaatkan teknologi track. Jadi setiap alat musik memiliki track tersendiri. Track drum, track bas, track gitar, track vokal.

Hop-hop, saya tak terlalu pakar dalam hal musik. Jadi saya hentikan dulu saja tulisan saya. Saya kembali jadi penikmat musik saja dahulu.

Menulis Blog dan Kontribusi ke Komunitas

Apa-apa yang kita dapatkan, seharusnya dapat kita kembalikan kepada komunitas. Masyarakat sekitar.

Dahulu saat kuliah, seorang dosen saya pernah komentar bahwa ia lebih menghargai mahasiswa yang aktif, kerja keras, IP cukup namun aktif di lingkungannya. Menghargai di sini tentu di luar konteks akademik ya. Ekstrimnya, mahasiswa yang memang nilai ujiannya bagus namun tidak aktif di lingkungannya, ya tentu tetap harus diberikan nilai A.

Menulis blog merupakan salah satu cara berkontribusi ke komunitas. Komunitas ini umumnya memiliki sumber daya terbatas. Komunitas takkan mampu memasang iklan di halaman depan KOMPAS untuk mengabari bahwa nanti akan ada acara pesta peluncuran Ubuntu atau Konferensi Blankon 2012, misalnya.

Yang saya lihat cukup konsisten menulis adalah Dedi Heriyadi aka Milisdad. Lihat saja misalnya ia bercerita soal peluncuran pesta Ubuntu di Tegal. Lalu soal AutoCAD di Android.

Tulisan-tulisan seperti ini tetap diperlukan tujuannya agar masyarakat tahu. Ya, memang masih perlu banyak usaha yang dilakukan dan itu tidak mudah. Coba saja untuk konsisten. Misal satu minggu menulis satu artikel. Lihat, berapa lama bisa bertahan.

Banyak cara untuk berkontribusi ke dunia Open Source dan salah satunya adalah dengan menulis blog. Cara lainnya ya tentu dengan ikut melakukan pemrograman. Yuk, mulai melihat source code.

Mencari Informasi Kopi Darat Blankon 2012 #blankopdar2012

Hari ini berangkat agak siang. Sesampainya di Transjakarta, saya melihat beberapa percakapan di twitter mengenai acara kopi darat Blankon 2012. Percakapan tersebut diberi tagar #blankopdar2012. Ternyata acara ini dilaksanakan kemarin Sabtu & Minggu.

Wah, andai saya bisa ikutan.

Belum banyak informasi yang bisa saya dapatkan mengenai acara ini. Semoga dari teman-teman yang mengikutinya, bisa menuliskannya lebih rinci lagi. Informasi lain yang bisa saya dapatkan ada di halaman wiki Blankon.

Ada yang tertarik berbagi? 😉