Tag Archives: blankonlinux

Donasi untuk Komunitas Python Indonesia

Akhirnya, setelah sekian lama, kini komunitas Python Indonesia menerima donasi!

Ide ini sudah lama dilontarkan namun baru bisa dieksekusi baru-baru ini. Wow, ternyata jalan dari ide untuk dieksekusi begitu panjang.

Donasi ini pun masih menggunakan rekening a/n pribadi. Belum atas nama organisasi. Yang saya tahu, jika ingin membuka rekening atas nama organisasi maka organisasi harus berbadan hukum. Dan … jalan menuju organisasi berbadan hukum juga masih panjang.

Satu organisasi komunitas di Indonesia yang sudah berbadan hukum yang saya tahu adalah Wikimedia Indonesia. Saya sendiri menjadi menjadi anggota Wikimedia Indonesia. Tapi sayangnya energi saya sudah habis untuk bisa aktif dalam Wikimedia Indonesia. Ingin sekali datang, minimal datang ke RUA, tapi sudah tak ada waktu lagi 😐

Sebenarnya, selama ini “donasi” sudah ada. Mulai dari perusahaan yang menyediakan tempat (dan makanan!) untuk kopdar. Lalu para pembicara-pembicara yang bersedia berbagi ilmu. Dan tentu termasuk mereka yang datang dan meluangkan waktu. Dalam kopdar Agustus 2014 nanti, teman-teman malah berencana mengadakan codesprint proyek members.

Semoga langkah donasi ini bisa menjadi satu dari seribu langkah untuk kontribusi komunitas F/OSS di Indonesia.

Blog Pemrograman

Pagi ini saya membaca tulisan yang menurut saya sangat bagus. Tulisan A. Jesse Jiryu Davis, Write an Excellent Programming Blog. Saya sempat bertemu dengan Jesse dalam PyCon APAC 2014, walau saya tak sempat bercakap-cakap langsung dengannya.

Saya kutip bebas bagian-bagian yang saya suka:

I want you to write. Not just code. Also words.

Thinking by writing.

Dari pengalaman saya menjadi maintainer planpin selama ini, sungguh sulit mendapatkan penulis yang bisa konsisten menulis. OK, tidak mulai dari kualitas, tapi kuantitas dulu saja. Kualitas bisa dibangun dengan kuantitas yang terus menerus ditingkatkan.

Memang, sifat tulisan ini bukanlah sesuatu yang dibayar. Bukan seperti menulis di kolom koran. Tapi bukankah menulis itu jadi satu bagian penting dalam komunitas open source? Bagaimana ide/gagasan disebarkan, bagaimana diskusi dilakukan, dan bagaimana koordinasi dilakukan.

Saya pun sadar, saya masih harus belajar menulis (dan juga membaca!) kode dengan lebih baik.

Planet dari Para Peserta GSoC Python

Hari ini saya mengunjungi halaman awal planet python. Di kiri atas ternyata ada tautan ke Planet Python Summer of Code. Saya buka, wah bagus sekali isinya. Inilah yang saya cari.

Jadi planet ini berisi cerita para mahasiswa yang mengikuti GSoC, lebih spesifiknya dengan bahasa pemrograman Python. Beberapa waktu lalu, saya posting mengenai Python di GSoC 2014.

Dengan membaca blog ini, kita jadi tahu cerita bagaimana para peserta dalam mengikuti GSoC. Selama ini saya ingin mencari tahu, lebih detail, tentang kontribusi Python dalam GSoC. Planet ini minimal sudah membuka jalan.

Sulitnya Membuat (dan Hadir) Kegiatan Luring (Offline)

Selamat datang era Internet. Selamat datang era bekerja bisa dilakukan dari mana saja, kapan saja. Lantas, benarkah Internet membuat komunitas lebih sering berjumpa? Ternyata tidak.

Entah bagaimana ceritanya, tahun ini saya jadi mengorganisi kopi darat komunitas Python Indonesia. Tidak, saya belum seorang python rockstar. Saya hanya berinisiatif mengorganisir kopi darat.

Jika mengintip Hideki Yamane, komunitas Debian di Jepang, sudah mengadakan 100 pertemuan di Tokyo. Pernahkah komunitas Debian Indonesia kopdar? Bagaimana dengan Ubuntu Indonesia? Kalau Ubuntu beberapa kali saya pernah mendengar pesta rilis. Saya pun pernah hadir (kira-kira) lima tahun silam saat di Bandung.

Apa komunitas lebih sering aktif di dunia daring (online)? Lewat IRC misalnya? Saya baru kembali ke IRC python-id setelah iromli mengatakan pentingnya interaksi real time.

Datang di acara luring (offline) memang sulit. Saya pun untuk hadir di blankonf 2012 perlu waktu hingga 3 jam hingga sampai lokasi. Macet parah. Pun saya hanya bisa hadir di blankonf selama 4 jam dari 2 hari acara yang dijadwalkan.

Zaki

Saya masih termasuk yang percaya pentingnya interaksi langsung. Dunia tidak datar seperti yang Thomas Friedmann katakan. Yang datar hanyalah informasi.

Apa dunia kerja di Indonesia terlalu keras sehingga sulit sekali bagi kita untuk meluangkan waktu aktif dalam komunitas (termasuk aktif di masyarakat sekitar)? Kalau ini benar, saya jadi ingat grafiti di salah satu pojok ibukota: Kerja terus-menerus seperti kerbau dungu.

Konferensi Komunitas Open Source

Jika kita berada dalam lingkaran yang tepat, suasana akan lebih menyenangkan. Berada di sekitar orang-orang dengan minat, passion, dan hobi yang sama. Bahkan berada dalam lingkaran yang tepat ini merupakan salah satu cara untuk menembus 10000 jam dalam menjadi profesional.

Belum lama ini baru saja selesai diadakan konferensi KDE, Debian (masih?) dan juga Wikipedia. Masing-masing punya namanya sendiri: KDE Akademy, Debian debconf, Wikipedia Wikimania. Sesekali rasanya ingin juga hadir di acara tahunan mereka ini dan merasakan serunya atmosfer kolaborasi.

Salah satu kesulitan yang saya sendiri alami dan dari pernyataan rekan, kesulitan kontribusi ke Open Source adalah kurangnya waktu luang. Ini masalah klasik sih, di seluruh belahan dunia juga mengalaminya.

Hmm… tapi saya perhatikan memang komunitas Open Source di Asia-Pasifik tak seaktif komunitas Open Source di Amerika dan Eropa. Berikut analisis sederhana saya.

Eropa adalah negara sosialis. Ya jadi barangkali negara sudah mampu menyediakan fasilitas hidup minimum yang cukup layak hingga orang-orang yang mendedikasikan waktu dan hidupnya untuk open source masih bisa hidup.

Kalau di Amerika (Serikat) bisa jadi sedikit berbeda. Open source di Amerika Serikat saya lihat bukan sekadar kontribusi tapi eksistensi dan adopsi. Eksistensi artinya untuk menunjukkan kemampuan. Adopsi artinya hasil yang lebih penting dari open source adalah adopsi oleh orang banyak bukan lagi berarti bertujuan pendek mencari untung dari hasil menjual open source ini saja.

Di tataran nasional, saya sempat menghadiri Konferensi Blankon, blankonf2012 tapi itupun hanya 1/2 hari. Padahal kalau menginap rasanya bisa lebih seru!

Sebagai penutup tulisan, karena saya tak bisa hadir langsung, saya mau siap-siap menunggu dokumentasi acara KDE Akademy, debconf13, dan Wikimania!