Tag Archives: debian

Rilis Video DebConf14

Komunitas Debian baru saja usai dengan debconf14. Tim video sudah merilis video konferensi ini. Wow, bananastastic!.

Saya jadi teringat, bagaimana saya berusaha membuat rekaman video kopdar Python Indonesia dengan segala keterbatasan sumber daya yang ada. Salut lah untuk tim video debconf14.

Di Indonesia sebenarnya saya lihat banyak pengguna Debian. Teman-teman di UI/ITB, misalnya. Namun belakangan dengan munculnya Ubuntu, saya kira generasi muda di Indonesia rasanya jadi lebih banyak yang menggunakan Ubuntu. Err tapi setahu saya sekarang teman-teman Blankon menggunakan Debian sebagai sistem base.

Selamat menonton! Bagi yang sudah menonton, tulisan resensi video akan berguna.

Taking A Bold Step

I am taking a bold step here. Disclaimer: this post will be considered exaggerate.

I choose to install Debian Testing. Yeay, I almost got it wrong. Debian Sid is for Debian Unstable.

Then I installed Apache web server. It’s 2.4.x version. This version is slightly differs from the 2.2.x version. Then I read the apache log.

[Fri Nov 15 12:10:20.515822 2013] [authz_core:error] [pid 13649:tid 2961128256] [client abc.def.ghi.jkl :16557] AH01630: client denied by server configuration: /home/abc

I am still figuring out how to solve this error.

Cerita Kontribusi Debian dalam GSoC 2013

Salah seorang yang aktif dalam Debian dan konsisten menulis, yang saya ketahui adalah Daniel Pocock. Daniel begitu rajin menulis. Saya sering membaca tulisannya melalui Planet Debian.

Saya merasa tulisan Daniel kali ini, begitu bagus. Yaitu tentang kontribusi Debian dalam Google Summer of Code 2013. Daniel menulis begitu lengkap. Ia tak malas melampirkan URL dalam tulisannya. Satu hal yang menurut saya butuh ketekunan.

Daniel menjelaskan bagaimana pro dan kontra GSoC. Nilai Google “Don’t be Evil” dijabarkan. Mengapa ada orang yang menganggap ini evil dan juga anggapan sebaliknya.

Semoga di tahun-tahun berikutnya akan ada orang Indonesia yang berkontribusi ke Debian melalui GSoC. Seperti yang sudah pernah dijabarkan oleh Iwan Setiawan.

Forticlient untuk Ubuntu/Debian

Blog ini tergabung ke Planet Ubuntu, kumpulan tulisan (yang seharusnya mayoritas?) membahas soal Ubuntu. Tapi seringkali saya mengikutkan tulisan yang tidak terkait langsung dengan Ubuntu. Jadi sekalian saya ingin mengucapkan minta maaf kepada para pembaca planet Ubuntu di sini, jika tulisan saya dianggap tidak relevan.

Sebenarnya, untuk bisa relevan hanya dengan Ubuntu, saya rasa masih sulit untuk di Indonesia. Lebih sulit mencari penulis yang bisa konsisten menulis. Konsisten, terus menerus. Kontinu, berkelanjutan. Nah, jadi sesekali tak mengapalah tulisan tak berkaitan langsung dengan planet. Asalkan jangan terus-terusan saja.

Hihihi…

Kembali ke judul. Kali ini saya ingin berbagi tautan bagaimana caranya agar bisa tersambung ke VPN Fortinet dari sistem operasi Ubuntu/Debian. Di dunia ternyata sudah ada yang mengembangkan aplikasi forticlient untuk Ubuntu/Debian. Terima kasih, dunia Open Source.

Silakan lihat di laman ini untuk lebih detailnya.

Rilis Debian Handbook Bahasa Indonesia: Bab 1

Debian GNU/Linux

Pada hari ini, 1 Maret 2013, saya putuskan untuk merilis terjemahan bahasa Indonesia dari Debian Handbook. Jika meminjam terminologi dan proses kerja Debian, rilis hari ini adalah rilis testing, Bab 1, Debian Handbook bahasa Indonesia.

Buku terjemahan Debian Handbook berbahasa Indonesia ini tersedia dalam format PDF dan epub.

Debian GNU/Linux (untuk selanjutnya disebut Debian saja karena alasan kepraktisan) telah mengukir sejarah yang cukup lama di Indonesia. Debian dibawa masuk ke Indonesia oleh orang-orang dari generasi 80-an. Beberapa diantara mereka ini ada yang menjadi tokoh yang cukup berpengaruh.

Memang pamor Debian tak sepopuler Ubuntu, distro turunan Debian. Bisa jadi pengguna Debian di Indonesia lebih sedikit dibanding pengguna Ubuntu. Tapi kondisi ini tidak mengubah keputusan saya untuk tetap melanjutkan meneruskan menerjemahkan buku ini karena saya beranggapan bahwa orang-orang tetap perlu tahu bagaimana wajah Debian sesungguhnya. Walau tidak dikenal secara langsung, bisa jadi Debian dikenal di Indonesia melalui distribusi turunannya yaitu: BlankOn dan Kuliax.

Menerjemahkan buku Debian Handbook ini membuka mata saya, bahwa banyak pengalaman dalam dunia F/OSS (Free/Open Source Software) yang bisa dieksplorasi. Tentang nilai, tentang prinsip, tentang kontribusi, tentang kolaborasi, dan juga tentang sumber daya yang selalu terbatas.

Memang kondisi di Indonesia tidak akan pernah sama dengan kondisi di luar sana. Untuk apa kontribusi ke F/OSS? Apa untungnya bagi perusahaan? Bisa jadi kondisi di luar sana memang lebih kondusif untuk perkembangan F/OSS tapi saya pikir ini tidak bisa jadi alasan untuk memulai berkontribusi.

Biar bagaimanapun ternyata, masalah yang sama tetap ada. Sumber daya yang selalu terbatas, begitu ujar Stefano Zacchiroli, sang pemimpin proyek Debian (DPL: Debian Project Leader) saat ini. Bagi kalangan awam nama Stefano Zacchiroli ini terdengar asing, karena kebanyakan orang mengetahui Debian adalah Ian Murdock, sang penemu Debian. Stefano Zacchiroli berpendapat bahwa kondisi Debian akan selalu dengan sumber daya yang terbatas karena Debian tidak bersifat mencari keuntungan. Kondisi yang hampir sama bagi semua organisasi nirlaba lainnya. Yang lebih penting bagi Debian saat ini adalah bagaimana memanfaatkan sumber daya yang terbatas ini.

Saya memang memprioritaskan untuk menerjemahkan bab 1 lebih dulu, dengan alasan isinya yang tidak teknikal. Bukankah yang teknikal lebih penting? Bagi saya tidak, karena sudah lebih banyak informasi berbahasa Indonesia mengenai bagaimana menginstall, mengkonfigurasi, hingga membuat paket Debian.

Bab 1 ini bercerita tentang apa itu Debian, sejarah, para pemimpin proyek, hingga pemberian codename Debian dari nama-nama tokoh dalam film Toys Story. Ternyata saya baru tahu belakangan bahwa nama-nama tokoh Toy Story ini diambil karena DPL saat itu, Bruce Perens, bekerja di Pixar Studios, yang memproduksi film Toy Story.

Akhir kata tentang menerjemahkan dan kontribusi. Menerjemahkan ternyata bukan sesuatu hal yang mudah juga. Kecuali jika Anda memang penerjemah profesional. Kesulitan yang utama adalah menerjemahkan sesuai dengan konteks Indonesia. Menerjemahkan bukan berarti sesederhana mengubah kalimat berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Lalu soal kontribusi. Saya harap, langkah awal penerjemahan bab 1 ini bisa mendorong rekan-rekan yang lain untuk turut berkontribusi juga. Entah dengan melanjutkan menerjemahkan bab selanjutnya, atau sebatas menjadi proofreader dari hasil terjemahan saya ini.

Selamat membaca!

Saya ucapkan terima kasih kepada perusahaan tempat saya bekerja yang dengan segala kondisinya: memungkinkan dan mendukung baik secara langsung atau tak langsung saya untuk bisa menerjemahkan buku ini. Bagi yang ingin turut berkontribusi dalam proyek penerjemahan buku ini bisa kirim surel ke za at students.ee.itb.ac.id za at python.or.id, atau bergabung di komunitas Debian Indonesia dengan melanggan milis, atau tinggalkan saja komentar di blog ini…

Debian dan Perl

Debian dan Perl. Saya berkesimpulan kedua makhluk ini adalah sahabat dekat.

Berikut beberapa data pendukung hipotesis saya:

  • Buku Debian Handbook. Perl seolah mendapatkan tempat tersendiri dalam buku ini.
  • Sesi Perl dalam DebConf2012. Lebih lanjut tulisan Raphael Hertzog mengenai Gregor Hermann, anggota Perl.
  • Salah seorang punggawa Indonesia, begitu mahir dalam Perl. Saya tak perlu sebutkan namanya.

Apakah sekarang saatnya kembali membuka buku dan mempelajari Perl? Kebetulan tempo hari saya mendapatkan buku Modern Perl yang menarik untuk dibaca. Apalagi tersedia format epub.

Namun, mereka yang muda-muda sepertinya lebih banyak bermain dengan Python. Lantas?

Rilis Subtitle Indonesia Bit dari DPL dalam DebConf12

Hari ini saya merilis terjemahan subtitle Bahasa Indonesia, Bit dari DPL, DebConf12.

Berikut beberapa kutipan pembicaraan yang menurut saya menarik.

I think we should really stop using the lack of manpower as an excuse

Kita harus berhenti beralasan kurangnya SDM. Mengapa? Ini jawabannya.

we are a volunteer project: we will always lack manpower to do something

Lalu hal lain lagi yang menarik dari pembicaraan Stefano Zacchiroli adalah soal rasa bangga dari apa yang kita lakukan.

like pride in what you do, being recognized for the work you do

Menarik kan isi pembicaraannya? Untuk lengkapnya, silakan coba saksikan sendiri.

Saya sudah menonton ulang satu kali dengan subtitle Bahasa Indonesia saat revisi akhir. Posisi subtitle masih bisa diperbaiki dengan merapikan baris-baru. Bagi yang belum mengetahui soal DebConf, bisa lihat tulisan lama saya soal DebConf.

Subtitle hanya berhenti di [36:04:00], untuk sesi tanya jawab belum dibuat subtitle Bahasa Inggris-nya, jadi saya pun juga berhenti. Membuat waktu yang presisi untuk subtitle ini bukan perkara mudah.

Saya pernah mencoba membuat subtitle video dengan durasi 5 menit saja, memakan waktu yang lama. Pertama menulis Bahasa Inggris-nya. Lalu mencocokkan dengan waktu. Baru langkah terakhir menerjemahkan.

Selamat menonton video ini dengan subtitle. Semoga dengan kontribusi saya ini, Debian bisa lebih dikenal di Indonesia, dan lebih banyak kontributor Debian dari Indonesia.

Oh ya, silakan clone repositori git saya ini, dan jika ada revisi perbaikan silakan ajukan permintaan pull.