Tag Archives: debid

Rilis Video DebConf14

Komunitas Debian baru saja usai dengan debconf14. Tim video sudah merilis video konferensi ini. Wow, bananastastic!.

Saya jadi teringat, bagaimana saya berusaha membuat rekaman video kopdar Python Indonesia dengan segala keterbatasan sumber daya yang ada. Salut lah untuk tim video debconf14.

Di Indonesia sebenarnya saya lihat banyak pengguna Debian. Teman-teman di UI/ITB, misalnya. Namun belakangan dengan munculnya Ubuntu, saya kira generasi muda di Indonesia rasanya jadi lebih banyak yang menggunakan Ubuntu. Err tapi setahu saya sekarang teman-teman Blankon menggunakan Debian sebagai sistem base.

Selamat menonton! Bagi yang sudah menonton, tulisan resensi video akan berguna.

Donasi untuk Komunitas Python Indonesia

Akhirnya, setelah sekian lama, kini komunitas Python Indonesia menerima donasi!

Ide ini sudah lama dilontarkan namun baru bisa dieksekusi baru-baru ini. Wow, ternyata jalan dari ide untuk dieksekusi begitu panjang.

Donasi ini pun masih menggunakan rekening a/n pribadi. Belum atas nama organisasi. Yang saya tahu, jika ingin membuka rekening atas nama organisasi maka organisasi harus berbadan hukum. Dan … jalan menuju organisasi berbadan hukum juga masih panjang.

Satu organisasi komunitas di Indonesia yang sudah berbadan hukum yang saya tahu adalah Wikimedia Indonesia. Saya sendiri menjadi menjadi anggota Wikimedia Indonesia. Tapi sayangnya energi saya sudah habis untuk bisa aktif dalam Wikimedia Indonesia. Ingin sekali datang, minimal datang ke RUA, tapi sudah tak ada waktu lagi 😐

Sebenarnya, selama ini “donasi” sudah ada. Mulai dari perusahaan yang menyediakan tempat (dan makanan!) untuk kopdar. Lalu para pembicara-pembicara yang bersedia berbagi ilmu. Dan tentu termasuk mereka yang datang dan meluangkan waktu. Dalam kopdar Agustus 2014 nanti, teman-teman malah berencana mengadakan codesprint proyek members.

Semoga langkah donasi ini bisa menjadi satu dari seribu langkah untuk kontribusi komunitas F/OSS di Indonesia.

Planet dari Para Peserta GSoC Python

Hari ini saya mengunjungi halaman awal planet python. Di kiri atas ternyata ada tautan ke Planet Python Summer of Code. Saya buka, wah bagus sekali isinya. Inilah yang saya cari.

Jadi planet ini berisi cerita para mahasiswa yang mengikuti GSoC, lebih spesifiknya dengan bahasa pemrograman Python. Beberapa waktu lalu, saya posting mengenai Python di GSoC 2014.

Dengan membaca blog ini, kita jadi tahu cerita bagaimana para peserta dalam mengikuti GSoC. Selama ini saya ingin mencari tahu, lebih detail, tentang kontribusi Python dalam GSoC. Planet ini minimal sudah membuka jalan.

Sulitnya Membuat (dan Hadir) Kegiatan Luring (Offline)

Selamat datang era Internet. Selamat datang era bekerja bisa dilakukan dari mana saja, kapan saja. Lantas, benarkah Internet membuat komunitas lebih sering berjumpa? Ternyata tidak.

Entah bagaimana ceritanya, tahun ini saya jadi mengorganisi kopi darat komunitas Python Indonesia. Tidak, saya belum seorang python rockstar. Saya hanya berinisiatif mengorganisir kopi darat.

Jika mengintip Hideki Yamane, komunitas Debian di Jepang, sudah mengadakan 100 pertemuan di Tokyo. Pernahkah komunitas Debian Indonesia kopdar? Bagaimana dengan Ubuntu Indonesia? Kalau Ubuntu beberapa kali saya pernah mendengar pesta rilis. Saya pun pernah hadir (kira-kira) lima tahun silam saat di Bandung.

Apa komunitas lebih sering aktif di dunia daring (online)? Lewat IRC misalnya? Saya baru kembali ke IRC python-id setelah iromli mengatakan pentingnya interaksi real time.

Datang di acara luring (offline) memang sulit. Saya pun untuk hadir di blankonf 2012 perlu waktu hingga 3 jam hingga sampai lokasi. Macet parah. Pun saya hanya bisa hadir di blankonf selama 4 jam dari 2 hari acara yang dijadwalkan.

Zaki

Saya masih termasuk yang percaya pentingnya interaksi langsung. Dunia tidak datar seperti yang Thomas Friedmann katakan. Yang datar hanyalah informasi.

Apa dunia kerja di Indonesia terlalu keras sehingga sulit sekali bagi kita untuk meluangkan waktu aktif dalam komunitas (termasuk aktif di masyarakat sekitar)? Kalau ini benar, saya jadi ingat grafiti di salah satu pojok ibukota: Kerja terus-menerus seperti kerbau dungu.

moinmo.in

Tentang moinmo.in

Moinmoin. Siapa yang tahu? Siapa yang tidak?

Moinmoin adalah satu dari sekian banyak engine wiki yang tersedia. Saya memiliki wiki pribadi. Wiki pribadi ini saya gunakan sebagai ‘kertas coret-coret-an’ untuk menulis apa saja. Enaknya menggunakan format wiki adalah kita bisa menyuntingnya kapan saja, sebisanya. Dan semuanya akan tercatat. Jadi tak perlu dipusingkan dengan save as versi sekian.

Dahulu saya menggunakan mediawiki sebagai engine wiki pribadi saya. Mediawiki ini digunakan oleh Wikipedia, salah satu ensiklopedia bebas terbesar yang ada. Saya memiliki ketertarikan untuk turut berkontribusi ke Wikipedia sehingga saat itu saya putuskan untuk menggunakan mediawiki. Namun sayang, kontribusi saya ke Wikipedia masih sedikit dan cenderung ON|OFF dengan durasi OFF lebih lama.

Wiki pribadi saya menggunakan mediawiki untuk sementara saya stop dulu. Lalu saya eksperimen menggunakan git untuk melacak perubahan to do list saya.

Sekarang saya akan mencoba menggunakan moinmoin.

Saya baru selesai dengan proses instalasi. Saya belum eksplorasi lebih dalam. Lalu muncul pertanyaan. Setelah saya amati, ternyata banyak proyek F/OSS yang menggunakan moinmoin sebagai engine wiki. Pertanyaannya mengapa? Apakah karena perang agama bahasa pemrograman PHP vs Python?

Berikut beberapa di antaranya:

  1. Wiki Debian
  2. Wiki Python

Err… cuma dua ya ternyata 😉

Taking A Bold Step

I am taking a bold step here. Disclaimer: this post will be considered exaggerate.

I choose to install Debian Testing. Yeay, I almost got it wrong. Debian Sid is for Debian Unstable.

Then I installed Apache web server. It’s 2.4.x version. This version is slightly differs from the 2.2.x version. Then I read the apache log.

[Fri Nov 15 12:10:20.515822 2013] [authz_core:error] [pid 13649:tid 2961128256] [client abc.def.ghi.jkl :16557] AH01630: client denied by server configuration: /home/abc

I am still figuring out how to solve this error.

Memotong Berkas MP3 Menggunakan cutmp3

Podcast. Belakangan ini, saya jadi suka mendengarkan podcast. Podcast mampu mengisi waktu luang saat saya sedang menggunakan transportasi publik. Enaknya podcast adalah, kita bisa memilih kapan untuk mendengarkan. Play, stop, pause. Dan tentu tak perlu menuntut pandangan mata.

Saat ini saya sedang menyiapkan podcast kopdar komunitas Python Indonesia bulan Oktober. Abstrak dan materi sudah dirilis.

Kalau Anda apakah termasuk yang suka mendengarkan podcast? Ini sekaligus saya eksperimen soal podcast.

Oh iya, kembali ke judul. Tulisan ini lebih bersifat ‘bagaimana’ ya berarti. Baiklah.

Pertama install cutmp3
# apt-get install cutmp3

Lalu baca manual 😛
$ man cutmp3

Inilah triknya.
$ cutmp3 -i input.mp3 -O output.mp3 -a mm:ss.xx -b mm:ss.xx

Penjelasan opsi:

  • -i: input file
  • -O: output file
  • -a: waktu awal dalam menit:detik.milidetik
  • -b: waktu akhir dalam menit:detik.milidetik

Ingat, tidak ada satuan jam, jadi tambahkan 60 jika waktu file yang ingin dipotong lebih dari 1 jam.

Cerita Kontribusi Debian dalam GSoC 2013

Salah seorang yang aktif dalam Debian dan konsisten menulis, yang saya ketahui adalah Daniel Pocock. Daniel begitu rajin menulis. Saya sering membaca tulisannya melalui Planet Debian.

Saya merasa tulisan Daniel kali ini, begitu bagus. Yaitu tentang kontribusi Debian dalam Google Summer of Code 2013. Daniel menulis begitu lengkap. Ia tak malas melampirkan URL dalam tulisannya. Satu hal yang menurut saya butuh ketekunan.

Daniel menjelaskan bagaimana pro dan kontra GSoC. Nilai Google “Don’t be Evil” dijabarkan. Mengapa ada orang yang menganggap ini evil dan juga anggapan sebaliknya.

Semoga di tahun-tahun berikutnya akan ada orang Indonesia yang berkontribusi ke Debian melalui GSoC. Seperti yang sudah pernah dijabarkan oleh Iwan Setiawan.