Tag Archives: planet-terasi

Layar Merah dengan Redshift

Akhir pekan lalu saya berkesempatan mengikuti MelbDjango camp. Saat malam semakin larut, saya melihat teman-teman yang lain. Mengapa layar komputer mereka berwarna menguning lalu semakin lama semakin merah?

“What’s wrong with your monitor?”, tanya saya. Kebanyakan mereka menggunakan MacBook. Lalu saya diberi tahu soal aplikasi f.lux. Saya belum sempat melihat detail penelitian f.lux, pendek cerita saya cari aplikasi serupa untuk GNU/Linux. Karena saya ingin segera mencoba, apakah benar memang lebih nyaman bagi mata?

Hingga akhirnya saya temukan aplikasi redshift. Saya install, dan saya coba. Hmm… memang mata jadi lebih sejuk.

Dan berikut respon teman saya saat saya bilang bahwa saya baru mengetahui soal redshift.

@za it’s pretty jarring when you start up redshift at this time of day :stuck_out_tongue:

You need to ease into it to ease into that bring red mode

Era Baru Membuat Slide Presentasi

Selamat datang era baru dalam membuat slide presentasi!

Alat apakah yang Anda gunakan untuk membuat presentasi? Apakah MS Power Point? Atau Open Office? Memang tak ada yang salah dengan membuat presentasi dengan mode WYSIWYG (What You See Is What You Get).

Sebelum era reveal.js saya menggunakan latex beamer. Bahkan saya memiliki repositori permulaan untuk membantu saya dalam memulai membuat presentasi menggunakan latex beamer. Dengan menggunakan latex beamer, saya bisa membuat materi presentasi via penyunting teks.

Saat menghadiri kelas Melbourne Django beberapa hari lalu, saya mencoba mengikuti langkah-langkah untuk menampilkan materi presentasi sendiri.

Dan sekarang materi presentasi pun bisa dengan mudah didistribusikan berikut dengan kode-nya.

Oh ya, beberapa minggu lalu, saya mencoba membuat presentasi via IPython notebook (yang belakangan berevolusi menjadi Jupyter). Hasilnya rasanya hampir sama dengan materi presentasi melbdjango karena sama-sama menggunakan reveal.js

Permasalahan Transportasi Publik di Melbourne

Ternyata, permasalahan dengan transportasi publik itu tidak hanya ada di Jakarta. Bahkan di Melbourne pun, tetap ada masalah dengan transportasi publik. Saya kira Melbourne, kota dengan populasi hanya 4.5 juta jiwa, tak akan ada masalah dengan transportasi publik. Bandingkan dengan populasi kota Jakarta yang bisa mencapai 12 juta jiwa saat siang.

Berikut adalah tautan dari surat kabar lokal the age mengenai masalah transportasi publik di Melbourne. Lebih spesifiknya adalah kereta Metro. Saya jadi teringat saat naik kereta Depok, tegangan turun dan memaksa KRL berhenti. Di Melbourne pun ternyata tegangan listrik untuk kereta masih kurang juga.

Saat awal-awal di Melbourne, saya merasa tidak ada masalah dengan transportasi publik di sini. Ya, karena sebelumnya saat di Jakarta, masalah transportasi publik lebih parah. Transjakarta bisa datang 30 menit berikutnya. Di dalam bis Transjakarta masih harus berakrobat ria untuk sekadar bisa masuk ke dalam bis. Tambah lagi jalur busway yang sering tidak steril. Plus, belakangan saya baca suka ada kejadian bis Transjakarta yang terbakar.

Satu insiden fatal yang pernah terjadi di Melbourne yang saya ketahui adalah saat alarm kebakaran di ruang kontrol kereta Metro terpicu. Semua kereta langsung dihentikan. Bahkan Universitas Monash memundurkan waktu ujian karena insiden ini.

Jadi, sebenarnya masalah itu akan selalu ada. Yang membedakan adalah kompleksitas dan skala masalah. Transportasi publik yang bagus juga bukan jaminan bagi setiap orang untuk tidak memiliki mobil pribadi. Untuk ini akan saya tulis dalam kesempatan yang terpisah.

Menulis di GitBook

Minggu lalu, saya membuka akun di gitbook. Saya ingin bereksperimen menulis menggunakan gitbook. Ide pertama yang muncul adalah menulis bagaimana saya menggunakan penyunting teks vim. Saya pertama kali tahu soal gitbook saat membaca tutorial django yang ditulis oleh komunitas django girls.

Belum banyak yang saya tulis di buku vim saya. Saya pun masih mengeksplorasi fitur gitbook. Satu hal yang sudah saya coba adalah fitur menyunting via web. Jadi menulis tak harus menggunakan penyunting teks. Termasuk saat membuat berkas baru, bisa dilakukan via web.

Nah, sekarang saatnya saya menambahkan tulisan sedikit demi sedikit…

Ke Konferensi Bahasa Pemrograman

Awal tahun ini saya beruntung, bisa mengikuti konferensi bahasa pemrograman Ruby Conference AU 2015. Konferensi ini merupakan konferensi bahasa pemrograman kedua yang saya ikuti setelah PyCon APAC 2014 lalu.

Saya sendiri, sebenarnya belum segitu pengalamannya dalam dunia program-memrogram. Tidak jago lah. Tak teruji. Programmer yang teruji kan programmer yang terbukti bisa memecahkan masalah yang ada.

Konferensi, pendek cerita, merupakan acara kumpul-kumpul besar para programmer.

Teman-teman dari komunitas Python Indonesia ada yang sempat bertanya, kapan Indonesia mengadakan PyCon? Saat itu jawaban saya, jalannya masih panjang. Saya sendiri masih lebih suka jika bisa konsisten mengadakan kopi darat alih-alih satu-dua hari konferensi lalu kegiatan berhenti.

Dan belum lama ini, teman-teman baru saja mengadakan kopi darat dengan tema Python 101.

iPad2 dengan iOS 8

I forgot which car I use today.

Saat Apple merilis iOS 8, saya turut penasaran ingin mencoba. Pilihan jatuh pada perangkat iPad2 karena kebetulan iPad2 ini memiliki storage yang besar: 64 GB.

Lama kelamaan, ternyata saya merasakan iPad2 ini tak se-responsif saat masih menggunakan iOS 7. Memang saya belum menggunakan alat ukur untuk mengukur performa ini, jadi sebatas “perasaan” saya saja.

Hmmph… apakah ada cara untuk kembali ke iOS 7?

Rilis Video DebConf14

Komunitas Debian baru saja usai dengan debconf14. Tim video sudah merilis video konferensi ini. Wow, bananastastic!.

Saya jadi teringat, bagaimana saya berusaha membuat rekaman video kopdar Python Indonesia dengan segala keterbatasan sumber daya yang ada. Salut lah untuk tim video debconf14.

Di Indonesia sebenarnya saya lihat banyak pengguna Debian. Teman-teman di UI/ITB, misalnya. Namun belakangan dengan munculnya Ubuntu, saya kira generasi muda di Indonesia rasanya jadi lebih banyak yang menggunakan Ubuntu. Err tapi setahu saya sekarang teman-teman Blankon menggunakan Debian sebagai sistem base.

Selamat menonton! Bagi yang sudah menonton, tulisan resensi video akan berguna.

Donasi untuk Komunitas Python Indonesia

Akhirnya, setelah sekian lama, kini komunitas Python Indonesia menerima donasi!

Ide ini sudah lama dilontarkan namun baru bisa dieksekusi baru-baru ini. Wow, ternyata jalan dari ide untuk dieksekusi begitu panjang.

Donasi ini pun masih menggunakan rekening a/n pribadi. Belum atas nama organisasi. Yang saya tahu, jika ingin membuka rekening atas nama organisasi maka organisasi harus berbadan hukum. Dan … jalan menuju organisasi berbadan hukum juga masih panjang.

Satu organisasi komunitas di Indonesia yang sudah berbadan hukum yang saya tahu adalah Wikimedia Indonesia. Saya sendiri menjadi menjadi anggota Wikimedia Indonesia. Tapi sayangnya energi saya sudah habis untuk bisa aktif dalam Wikimedia Indonesia. Ingin sekali datang, minimal datang ke RUA, tapi sudah tak ada waktu lagi 😐

Sebenarnya, selama ini “donasi” sudah ada. Mulai dari perusahaan yang menyediakan tempat (dan makanan!) untuk kopdar. Lalu para pembicara-pembicara yang bersedia berbagi ilmu. Dan tentu termasuk mereka yang datang dan meluangkan waktu. Dalam kopdar Agustus 2014 nanti, teman-teman malah berencana mengadakan codesprint proyek members.

Semoga langkah donasi ini bisa menjadi satu dari seribu langkah untuk kontribusi komunitas F/OSS di Indonesia.

Blog Pemrograman

Pagi ini saya membaca tulisan yang menurut saya sangat bagus. Tulisan A. Jesse Jiryu Davis, Write an Excellent Programming Blog. Saya sempat bertemu dengan Jesse dalam PyCon APAC 2014, walau saya tak sempat bercakap-cakap langsung dengannya.

Saya kutip bebas bagian-bagian yang saya suka:

I want you to write. Not just code. Also words.

Thinking by writing.

Dari pengalaman saya menjadi maintainer planpin selama ini, sungguh sulit mendapatkan penulis yang bisa konsisten menulis. OK, tidak mulai dari kualitas, tapi kuantitas dulu saja. Kualitas bisa dibangun dengan kuantitas yang terus menerus ditingkatkan.

Memang, sifat tulisan ini bukanlah sesuatu yang dibayar. Bukan seperti menulis di kolom koran. Tapi bukankah menulis itu jadi satu bagian penting dalam komunitas open source? Bagaimana ide/gagasan disebarkan, bagaimana diskusi dilakukan, dan bagaimana koordinasi dilakukan.

Saya pun sadar, saya masih harus belajar menulis (dan juga membaca!) kode dengan lebih baik.